Beranda Humaniora Warga Pandeglang Keluhkan Kualitas Beras BPNT yang Tak Layak Konsumsi

Warga Pandeglang Keluhkan Kualitas Beras BPNT yang Tak Layak Konsumsi

481

PANDEGLANG.BCO.CO.ID – Warga Kampung Sepen, Desa Banyu Mekar, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, mengeluhkan kualitas beras Bantuan Pangan Non Tunai atau BPNT tahun 2021. Pasalnya, beras yang diterima oleh Kelompok Penerima Manfaat atau KPM berbau apek dan tidak layak dikonsumsi.

Bantuan yang disalurkan pada 29 Desember 2021 lalu, berbau setelah dimasak sehingga tidak layak dikonsumsi. Diketahui, bantuan beras BPNT yang disalurkan melalui agen e-warung.

“Ini beras tidak layak konsumsi, dipegang saja bukan seperti beras, pas di masak tidak lengket tapi keras dan baunya beda,” kata Aniyah, salah seorang KPM, Senin 03 Januari 2022.

Aniyah mengaku, baru kali ini menerima beras dengan kualitas jelek, sebelumnya kualitas bantuan yang diberikan selalu bagus. Aniyah berharap kejadian tersebut tidak terjadi lagi, karena saat pandemi Covid-19 seperti sekarang,masyarakat sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. “Baru kali ini dapet bantuan tidak layak dikonsumsi, lebih baik sedikit bantuan tapi layak di makan, jangan dapat bantuan 4 karung malah tidak bisa di makan,” terangnya.

Sekertaris Desa Banyu Mekar, Ina Aminah, membenarkan adanya aduan masyarakat yang mengeluh dengan beras yang tidak layak pada penyaluran bantuan pangan non tunai, pihak desa mengatakan sudah berkomunikasi dengan agen penyaluran dan suplayer sebagai penyedia bahan pokok. “Ketika kemarin ada pengaduan masyarakat ke desa kita melihat secara langsung beras itu tidak layak untuk di konsumsi. Kita sebagai aparatur desa menerima aduan masyarakat inginnya apa yang diberikan oleh penyalur itu bagus dan layak konsumsi, walaupun berasnya itu beras tidak begitu putih. Kalau yang sekarang itu bagus putih, tapi rasanya tidak konsumsi,” terangnya.

Bantuan berupa program BPNT sendiri di salurkan pemerintah satu bulan sekali ke KPM, dengan komposisi beras 10 kilo gram, daging, telur, tahu dan tempe. Dengan tidak layaknya dikonsumsi, warga pun lebih memilih memberikan beras tersebut kepada hewan ternaknya. []