Beranda Pemerintahan Kemendikbud Harap Rampak Bedug Khas Pandeglang Jadi Ikon Daerah

Kemendikbud Harap Rampak Bedug Khas Pandeglang Jadi Ikon Daerah

197

PANDEGLANG.BCO.CO.ID – Kemendikbud mengapresiasi kesenian khas Pandeglang, yakni Rampak Bedug yang di kolaborasikan dengan kesenian yang ada dibeberapa kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Kemendikbud juga meminta pelaku seni terus mengembangkannya agar bisa menjadi ikon daerah.

Kasubag Tata Usaha Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan KemendikbudFatwa Yulianto mengatakan, pihaknya akan terus menjalin sinergitas dengan pemerintah daerah agar kesenian lokal bisa terus dilestarikan. “Kita saling bersinergi dengan pemerintah daerah agar kesenian rampak bedug bisa terus berkembang. Karena ini merupakan warisan budaya, jadi harus kita lestarikan,” kata Fatwa, saat penutupan Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2021 menghadiri Perkumpulan Paguyuban Bale Seni Ciwasiat pada Minggu, 21 November 2021.

Fatwa mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya dan terobosan agar kesenian dan kebudayaan lokal bisa terus berkembang. “Kita juga memiliki beberapa UPT di daerah dan bertugas untuk membantu mengembangkan dan melestarikan kebudayaan daerah. Adapun pemberian bantuan, itu hanya stimulus, idenya dulu yang ditangkap. Kami juga mohon doanya agar ke depan kegiatan seperti ini bisa lebih digiatkan lagi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kesenian rampak bedug akan dibahas ditingkat pusat dengan berbagai penilaian dan pertimbangan. Tujuannya, agar kesenian daerah itu bisa ditampilkan di tingkat nasional maupun internasional. “Nanti kita lanjutkan ke pemerintah pusat agar ditawarkan ke luar negeri sekaligus untuk mengenalkan budaya lokal di semua wilayah,” ujarnya.

Rohendi pemilik Bale Seni Ciwasiat mengatakan, di Pandeglang hanya ada tiga kecamatan yang melestarikan kesenian rampak bedug. Oleh karena itu, pihaknya akan terus menjalin kerja sama dengan pihak terkait agar warisan budaya lokal itu bisa terus berkembang. “Ada di Kecamatan Pandeglang, Karangtanjung dan Kecamatan Cadasari. Hanya ada tiga kecamatan saja yang sudah ada rampak bedugnya,” katanya.

Dia mengatakan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan kebudayaan lokal itu. Di antaranya dengan melakukan kolaborasi dengan kesenian lain. “Bagaimana budaya ini menjadi filter dan jari diri anak mudah, sehingga menjadi ketahanan di daerah. Kita lakukan kolaborasi seperti beluk ngabedug, keprak bedug arak-arakan, jaipong rabeg, bedang, dan calung renteng,” pungkasnya. []