Beranda Humaniora Ibu Hamil di Pandeglang Ditandu 4 Kilometer, Bayi Kembarnya Meninggal

Ibu Hamil di Pandeglang Ditandu 4 Kilometer, Bayi Kembarnya Meninggal

1734

PANDEGLANG, BCO.CO.ID –  Seorang ibu muda bernama Anah, warga Kampung Kadugedong, Desa Sindangresmi, Kecamatan Sindangresmi, Kebupaten Pandeglang, harus ditandu sejauh 4 kilometer saat ia hendak melahirkan ke Puskesmas. Anah terpaksa dibawa dengan menggunakan sarung yang diikat ke sebatang bambu oleh warga lantaran kondisi jalan disana rusak parah dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan.

Kisah ibu muda yang hendak melahirkan dan harus ditandu menggunakan kain sarung serta bambu itu diunggah dan dibagikan ke media sosial oleh saudaranya, bernama Abdi Ahmad Muhtadin di akun facebooknya. Ahmad mengaku bahwa ia juga ikut mengantarkan Anah ke puskesmas setempat, setelah itu ibu muda tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan padahal sudah mengalami kontraksi. “Aksesnya itu tidak bisa dilalui kendaraan, apalagi roda empat, jadi mau gimana lagi harus di tandu. Kejadiannya sih waktu hari minggu,” kata Ahmad Muhtadi, saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin 03 Mei 2021.

Ia menyebutkan, setelah sampai ke Puskesmas Sindangresmi, Anah langsung diberikan perawatan dan langsung melakukan proses persalinan. Namun, kata Ahmad, kedua bayi yang dilahirkan oleh Anah meninggal dunia. “Iyah kang meninggal dunia kedua bayinya, semoga keluarga diberikan ketabahan,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Sindangresmi Hamdan, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pasien yang ditandu warga yang hendak mendapatkan pelayanan persalinan. Namun, setelah ditolong dan melahirkan, kedua anak kembar pasien tersebut meninggal dunia. “Iya, pasien yang mau melahirkan itu ditandu warga. Tapi setelah lahir, kedua anak kembarnya meninggal dunia,” kata Hamdan.

Dijelaskannya, ada beberapa faktor yang menyebabkan kedua bayi kembar pasien tersebut meninggal dunia, salah satunya karena ditandu, sehingga terlambat untuk mendapatkan pelayanan. “Namun memang dibarengi dengan faktor lain juga, soalnya pasien itu termasuk memiliki resiko tinggi. Ditambah usia kehamilannya itu baru 6 bulan jalan,” jelasnya.

Dikatakannya, jarak rumah pasien ke Puskesmas Sindangresmi tersebut lumayan jauh, sekitar kurang lebih 4-5 kilometer. Ditandunya pasien itu kata Hamdan, karena sulitnya akses jalan untuk dilalui kendaraan. “Karena akses halan dari rumahnya ke Puskesmas itu tidak bisa dilalui kemdaraan baik rempat maupun roda.dua. Akhirnya pasien itu ditandu oleh warga,” imbuhnya.

Hamdan mengaku, kedua bayi kembar dari pasien itu meninggal di dalam kandungan, namun proses persalinan berjalan normal tidak harus dilakukan operasi cesar. Sekarang lanjut dia, ibunya sudah dibawa pulang dengan kondisi sehat. “Meninggalnya saat di dalam kandungan dan lahir prematur, karena usia kehamilan baru berjalan 6 bulan,” pungkasnya. [PIAN]