Beranda Humaniora Mengenal Bebelodogan, Tradisi Ngabuburit Masyarakat Pandeglang Dengan Meriam Bambu

Mengenal Bebelodogan, Tradisi Ngabuburit Masyarakat Pandeglang Dengan Meriam Bambu

661

PANDEGLANG, BCO.CO.ID – Untuk menunggu waktu berbuka puasa tiba, banyak cara dan kegiatan yang dilakukan warga, khususnya kalangan remaja dan anak anak. Seperti yang terlihat di Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Warga memilih mengisi waktu ngabuburit dengan bermain meriam bambu atau sering disebut bebeledogan.

Pantauan dilokasi, selama bulan suci ramadhan, warga Kampung Cilaja masih melestarikan permainan tradisional meriam bambu atau beledogan. Meriam yang terbuat dari bambu yang sudah berumur tua, dan di potong sepanjang 1,5 meter hingga dua meter itu lalu dilubangi dibagian bawah sebesar 2 centimeter sebagai celah untuk menyulut api.

“Bambu nya itu yang tua, ya paling panjang 2 meter terus dilubangi sekitar dua centimeter,” kata Ari Sifahudin, warga setempat ditemui BCO Media di lokasi, Jumat 16 April 2021.

Untuk memainkan bebeledogan ini, biasanya menggunakan minyak tanah sebanyak 1 liter untuk satu batang beledogan dan satu buah lilin. Untuk alat penyulut api, biasanya menggunakan batang pohon yang kering.

“Untuk bahannya agar bisa meledak itu dari minyak tanah, yang di masukan ke dalam bambu,” terangnya.

Ia mengatakan, bebeledogan biasanya dimainkan menjelang waktu berbuka puasa dan setelah melaksanakan sholat tarawih. Menurutnya, jika ingin menghasilkan suara yang lebih keras biasanya anak-anak menggunakan karbit, dengan cara dilarutkan ke minyak tanah tersebut, namun resiko menggunakan karbit ini dapat membahayakan. Pasalnya, ledakan yang dihasilkan dapat membuat pecah meriam bambu.

“Kalau pengen keras bunyinya pake karbit atau bahan untuk mematangkan buah-buah gitu. Tapi bahaya, soalnya bambu suka pecah kalau pake karbit,” tuturnya.

Permainan meriam bambu atau bebeledogan ini, hanya dilakukan saat bulan suci ramadhan saja. Selain bambu, beledogan juga bisa menggunakan batang pohon pepaya. Namun rentan pecah dan tidak tahan lama, juga memiliki daya ledakan yang kecil.

“Kalau disini cuma ramadhan saja kita mainkannya, terus bukan hanya dari bambu tapi batang pepaya juga bisa,” pungkasnya. [PIAN]