Beranda Humaniora GMNI FTI UNMA Galang Dana untuk Hidni, Pengidap Kanker Mata

GMNI FTI UNMA Galang Dana untuk Hidni, Pengidap Kanker Mata

425
GMNI FTI UNMA Banten galang dana untuk bantu penderita kanker mata, Senin 1 Januari 2021.

PANDEGLANG.BCO.CO.ID – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat FTI UNMA Banten melakukan aksi galang dana di Lampu Merah Alun-alun Pandeglang sejak 31 Januari hingga 06 Februari 2021. Aksi soaial ini dilakukan untuk membantu Hidni (5 thn), pengidap kanker mata tadium 4, putri dari Maesaroh, yang beralamat di Kampung Pasir Peuteui, Desa Cilentung Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang.

“Selaku kader GMNI Kabupaten Pandeglang yang sering diajarkan teori harus saling membantu dengan sesama, apalagi orang yang bisa dibilang kaum marhaen, kami sangat tergerak hati untuk membantu Hidni. Harapan kami, semoga Hidni lekas sehat secara total tanpa harus menjalani kemoterapi lagi dan semoga dinas terkait ikut serta membantu Hidni,” ujar Yayat, Ketua GMNI Komisariat FTI UNMA Banten

Dihubungi terpisah, Maesaroh, ibunda Hidni mengatakan, saat ini anaknya menunggu jadwal operasi dan untuk untuk saat ini tindakan yang dilakukan adalah kemoterapi dengan perkiraan biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 50 juta.

“Sebetulnya kita butuh biaya bukan hanya untuk operasi saja. Kadang butuh untuk ongkos, trus beli obat, karena obat juga ada yang tidak ditangging oleh BPJS. Jadi harus beli sendiri. Kemudian kebutuhan untuk kemoterapi, apalagi kalau badannya drop dan harus dirawat, kadang ketersediaan obat di rumah sakit lagi kosong, akhirnya kita harus cari dan beli di apotek di luar rumah sakit,” ujar Maesaroh.

Belum lagi, kata Maesaroh, harus beli susu untuk perbaikan gizi anaknya. Terus kalau lagi dirawat, di kemo, butuh pempers, tisu basah, tisu kering, underpad untuk alas popok. “Kalau sudah kemo, Hidni tiduran aja di kasur. Makanya pake pempers, karena pipis dan BAB-nya di pempers. Justru yang lebih borosnya itu di pempersnya,” katanya.

Maesaroh juga mengatakan menggunakan BPJS mandiri yang setiap bulan harus dibayar. “Pekerjaan saya seorang honorer. Berapa sih pendapatan honorer? Ya mohon maaf, bukannya gak bersyukur atas rezekinya, tapi kadang suka minjem dulu ke temen untuk biaya ke rumah sakit. Sebenarnya kita berobat di Cipto sudah dari 2018. Sudah 2 tahun lebih, baru ini juga saya minta donasi dari orang-orang. Ini juga setelah mendengar kata dokter harus kemo tiap bulan. Dulu juga sering kemo, cuma tidak lama seperti sekarang ini,” ujar Maesaroh sambil menyeka air mata. []